Mencintai Satwa dan Bunga Identitas Bangsa

http://d30mmglg94tqnw.cloudfront.net/wp-content/plugins/magic-gallery/uploads/12/komodo-dragon_6771_600x450.jpgKetika mendengar kata ‘Kanguru’ orang langsung akan teringat Australia. Ketika mendengar kata ’Tulip’ orang langsung terbayang Belanda. Dalam kesempatan berbeda, kata ’Sakura’ ingatan orang langsung ke Jepang. Onta didekatkan pada Arab Saudi. Ketika disebutkan ’Gajah putih’, pasti orang akan terbayang Thailand.
Lebih dari sekadar khasanah aset kehidupan di jagad raya, eksistensi flora dan fauna ternyata bisa menjadi ’diplomat’ yang handal dalam memperkenalkan sebuah negara. Lalu?

Indonesia negeri 13.677 pulau beriklim tropis memiliki kekayaan flora dan fauna yang luar biasa ditinjau dari ragam jenisnya. Sebagai negeri agraris dengan hutan menghijau, menjadi surganya habitat hewan maupun tumbuhan yang tiap daerah satu dengan yang lain bisa berbeda jenisnya. Seberapa banyakkah yang tahu, nama satwa atau bunga yang ketika disebutkan orang langsung mengingat negara kita?

Identitas

Ternyata belum banyak yang mengetahui atau lupa, sebenarnya kita telah lama memiliki maskot satwa dan bunga yang telah ditetapkan pemerintah sebagai identitas bangsa.

Sekadar mengingatkan kembali, pada 1991 pemerintah telah mengumumkan secara resmi mengenai satwa dan bunga nasional. Pengukuhan nama-nama satwa dan bunga kebanggaan nasional itu diumumkan langsung oleh presiden Soeharto yang berkuasa waktu itu dalam sebuah acara khusus.

Ada tiga klasifikasi satwa dan bunga yang ditetapkan. Untuk satwa nasional telah ditetapkan berdasarkan klasifikasi: satwa bangsa, satwa pesona dan satwa langka. Satwa bangsa adalah komodo, satwa pesona ikan arwana dan satwa langka elang jawa.

Sementara tiga klasifikasi bunga nasional yang telah ditetapkan adalah: puspa bangsa, puspa pesona dan puspa langka. Puspa bangsa pilihannya bunga melati, puspa pesona anggrek bulan dan puspa langka raflesia raksasa.

Menjadikan satwa dan bunga sebagai salah satu unsur identitas bangsa, memang tidak termaktup dalam konsitusi negara sebagaimana identitas bangsa yang prinsip seperti halnya bendera, bahasa, lambang negara dan lainnya. Eksistensi satwa dan puspa nasional lebih didasari oleh kebutuhan melengkapi identitas bangsa dari dimensi khasanah flora dan fauna sebagai aset nasional.

Sebagaimana diilustrasikan di awal tulisan ini, eksistensi flora dan fauna bisa menjadi ikon sebuah negara. Mengapa?

Satwa dan tumbuhan bisa bermakna khusus menurut kesejarahannya, tradisinya dan keistimewaannya di negara tertentu.

Contohnya kanguru, satwa itu menjadi ikon Australia karena memang negara benua itu manjadi habitat kangkuru yang istimewa sebagai hewan satu-satunya di dunia dengan kantong diperutnya. Tulip mungkin bukan bunga langka di dunia sebagaimana halnya, raflesia raksasa. Namun Belanda berhasil menempatkan bunga itu sebagai komoditas primadona.

Selain upaya melengkapi unsur identitas bangsa, eksistensi satwa dan flora dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan mengembangkan sarana diplomasi, sarana komoditi dan sarana apresiasi dalam rangka mewujudkan cinta tanah air.

Sebagai bangsa, kita bangga memiliki khasanah fauna yang beragam. Komodo, elang jawa dan ikan arwana diharapkan bisa menjadi sarana ’diplomasi’ yang baik memperkenalkan negeri ini kepada masyarakat dunia, baik melalui ekspor ikan arwana ataupun wisata di Pulau Komodo.

Masyarakat kita juga memiliki apresiasi tersendiri terhadap bunga. Bunga melati yang dijuluki puspa bangsa, telah banyak dikenal masyarakat kita tidak hanya karena keharumannya, namun di kalangan masyarakat tertentu dipakai sebagai perlengkapan upacara-upacara tradisi atau upacara sakral seperti perkawinan, upacara kematian dan lainnya.

Warna putih melati juga disimbolkan masyarakat sebagai kesucian atau pengabdian suci seorang pahlawan. Dalam ensiklopedi Amaricana mencatat bunga nasional dari sedikitnya 68 negara, di sana disebutkan melati bunga khas dari negara Indonesia.

Anggrek bulan yang digelari puspa pesona, banyak dibudidayakan masyarakat karena nilai ekonominya cukup tinggi sebagai komoditas tanaman hias. Karena keanggunannya, bunga ini juga dipakai sebagai hiasan dalam acara resepsi resmi kenegaraan atau acara lainnya. Lalu, raflesia raksasa sebagai puspa langka yang unik banyak dikagumi para pecinta tanaman. Bunga ini hanya tumbuh di Indonesia, itu pun di propinsi Bengkulu. Keunikan lain, hanya mekar pada pulan Januari, Nopember dan Desember dengan garis tengah antara 70-90 centimeter. Karena ukurannya yang istimewa itu, menempatkan raflesia sebagai bunga yang terbesar di dunia. Sejarah mencatat, bunga ini pertama kali ditemukan pada 1818 di Kabupaten Rejang Lebong, Benmgkulu, oleh Raffles, penguasa dari Portugis pada masa penjajahan.

Cinta Lingkungan

Mengembangkan apresiasi masyarakat terhadap flora dan fauna kebanggaan nasional dapat mewujudkan rasa cinta tanah air dan lingkungan hidup dalam fungsi idealnya.

Kesadaran masyarakat diketuk untuk turut melestarikan lingkungan dengan tidak mengganggu habitat hewan maupun tanaman langka yang dilindungi pemerintah.

Kita sangat prihatin mendengar kabar, masih ada perburuan dan perdagangan satwa langka yang dilindungi pemerintah dengan berbagai motifnya. Begitu pula dengan pembukaan lahan di hutan lindung sebagai habitat flora dan fauna kebanggaan kita.

Melestarikan lingkungan bisa pula dilakukan dengan mengembangkan apresiasi yang diarahkan kepada budi daya. Budidaya tanaman ataupun hewan merupakan bentuk pengembangan apresiasi dalam fungsi ekonomi.

Budi daya ikan arwana, bunga melati atau anggrek bulan, selain melestarikan lingkungan juga diharapkan bisa menjadi komoditas andalan yang tidak hanya memungkinkan menjadi sarana memperkenalkan negara kepada masyarakat dunia sebagaimana bunga tulip dari Belanda, namun sudah pasti menyumbang pundi devisa negara.

Namun hal yang terpenting, mengembangkan apresiasi keindahan flora dan fauna di tengah masyarakat harus selaras dengan upaya membina lingkungan hidup yang bersih, sehat dan indah.

dari berbagai sumber

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar