TUHRANUDDIN GURU INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
    Sebelum  membahas pendapat atau pemikiran dari kedua tokoh filsafat islam seperti yang disebutkan penulis (  Ibnu Ruysd dan  Ibnu Maskawaih), Maka perlu kiranya penulis akan memaparkan tentang biografi dari kedua tokoh tersebut yang disertai dengan pendapat atau pemikiran dari mereka.
     Bahwa Allah memberikan  manusia akal agar digunakan untuk berpikir, namun harus diingat bahwa hasil kerja akal akan ditemukan persamaan dan perbedaan hal ini menunjukkan bahwa dalil yang didasari atas akal semata tanpa didukung oleh dalil yang Qot’i tidak dapat dijadikan hujjah.
B.    Rumusan Masalah

Untuk memberikan gambaran yang jelas tentang tulisan ini, maka rumusan masalah yang akan dibahas antara lain :

1.    Bagaimana Pemikiran filsafat Ibnu Ruysd ?
2.    Bagaimana Pemikiran filsafat Ibnu Maskawaih ?
3.    Apakah persamaan dan perbedaan dari kedua tokoh tersebut ?

C.    Tujuan Penulisan dan Tujuan Masalah

Penulisan ini dibuat sebagai Tugas Ujian Akhir Semester (UAS) pada mata kuliah filsafat islam, sedangkan  tujuan masalah yang dibahas yaitu :

1.    Menjelaskan tentang filsafat Ibnu Ruysd
2.    Menjelaskan tentang filsafat Ibnu Miskawaih
3.    Mengomentari persamaan dan perbedaan dari pemikiran filsafat Ibnu Rusyd dan Ibnu Miskawaih .


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sejarah Ibnu Rusyd dan pemikiran nya dalam filsafat

Nama lengkap Ibnu Rusyd  adalah Abu al- Walid Muhammad Ibnu  Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Ruysd dia  dikenal di dunia barat dengan sebutan “ Averros”. Ia lahir di Cordova ( Spayol), pada tahun 520 H / 1126 M).  Ibnu Rusyd hidup di bawah keluarga yang mempunyai perhatian besar terhadap Ilmu, sehingga sejak kecil beliau terlatih cinta dan haus akan ilmu, ini dibuktikan dengan ketekunan beliau belajar berbagai disiplin Ilmu antara lain :Al- Qur’an, Tafsir , Hadits , Fiqih, Matematika, Astronomi, Logika , Filsafat , dan Kedokteran.
Adapun pemikiran Ibnu Ruysd dalam filsafat yakni sebagai berikut :

1.    Metafisika
Dalama masalah Ketuhanan Ibnu Rusyd berpandangan bahwa Allah SWT sebagai penggerak pertama (al-Muharrik al-awwal), dalam buku filsafat ditulis bahwa pendapat ini sejalan dengan pemikira Aristoteles (Modul FIS Kualifikasi PAI  2011 hal 165), dalam modul ini lebih lanjut dikatakan bahwa Dalam karya beliau yang berjudul الكشف عن المناحج الادلة Ibnu Ruysd mengagas tiga dalil yang digunakan untuk membuktikan adanya Tuhan , yaitu : 1) Dalil Inayah Al –hillahiyah yang diartikan dengan Pemeliharaan Tuhan , sebab Keteraturan Alam tidak mungkin  ada dengan sendirinya, tentu ada pencipta yang Maha agung dibaliknya. 2) Dalil Iktira’ yang diartikan sebagai pencipta, beliau berpendapat bahwa apa yang ada di alam ini tidak ada dengan tiba –tiba harus ada pencipta yang menciptaka. 3) Dalil Harakah yang artinya Bergerak ,Menurut beliau  bahwa alam ini selalu bergerak , Matahari terbit dari timur tenggelam di sebelah Barat, pergantian malam dan siang dan planet – planet nya bergerak dengan keteraturan dan gerakan – gerakan menjadi dalil adanya  penggerak pertama yang tidak digerakkan.

2.    Konsep akal
Konsep akal menurut Ibnu Rusyd dapat ditemukan secara ekspilisit melalui sikap keterbukaan dan ketakjubannya pada tiori Anaxagoras. Salah satu contoh pendapat Anaxagoras ketika meyampaikan bahwa pelangi adalah pemantulan Matahari pada awan, bukan seperti yang dikatakan oleh penganut paham mite pelangi atau bianglala adalah seorang dewa atau dewi. Pemikiran Anaxagoras adalah merupakan pendekatan yang rasional yang dapat dikontrol, dapat diteliti oleh akal dan dapat diperdebatkan kebenarannya. Selanjutnya pembicaraan tentang “ akal ” diarahkan pada aspek fungsionalnya sebagai agen intelek. Agen intelek merupakan penghubung dan pembawa material intelek yang tidak ada di dalam aktualitas menjadi ada dan terpikirkan didalam aktualitas

B.    Sejarah Ibnu Miskawaih dan pemikirannya dalam filsafat
Ibnu Maskawaih nama lengkapnya adalah Abu Ali Ahamad bin Muhammad bin yakub bin Miskawaih. Beliau lahir di Raiy, salah atu kota yang dalam abad sekitar hidupnya sangat terkenal di Persi, yaitu teheran saat ini, dia hidup tahun antara 330-421 H/ 940-1030 M.

Adapun pemikiran Ibnu Miskawaih  dalam filsafat yakni sebagai berikut:

1.    Tuhan
Tuhan, menurut miskawaih adalah zat yang tidak berjism, azali, dan pencipta. Tuhan Esa dalam berbagai aspek, ia tidak terbagi dan tidak mengandung kejamakan dan ia ada tanpa diadakan dan ada-Nya tidak bergantung pada yang lain, sementara yang lain membutuhkan-Nya.
Tuhan dapat dikenal dengan proposisi negatif dan tidak dapat dikenal dengan sebaliknya,prograsi positif. Alasannya proposisi positif akan menyamakan Tuhan dengan alam, Segala sesuatu yang ada di alam ini ada gerakan dan Tuhan adalah penggerak utama yang tidak bergerak dan pencipta yang tidak berubah – ubah. Gerakan tersebut merupakan sifat bagi alam yang menimbulkan perubahan pada sesuatu dari bentuknya semula. pendapat ini berdasarkan pada pemikiran aristoteles bahwa segala sesuatu selalu dalam perubahan yang mengubahnya dari bentuk semula. Sebagai filosofis religius sejati, Ibnu Miskawaih mengatakan bahwa alam semesta ini diciptakan Allah dari tiada menjadi ada, karena penciptaan yang sudah ada bahan sebelumnya tidak ada
Konsep Akal
Dalam konsep akal Ibnu Miskawaih menyebutkan ada yang dinamakan akal aktif (‘Aqlu Fa’al) yaitu entitas  pertama yang memancar dari Tuhan, Akal aktif ini tanpa perantara sesuatu pun, Ia kekal, sempurna dan tak berubah. Pancaran yang terus menerus dari Tuhan dapat memelihara tatanan di alam ini.

2.    Tentang Moral
Ibnu Miskawaih seorang moralis yang terkenal hampir setiap pembahasan, akhlak dalam islam, filsafat ini selalu dapat perhatian utama, keistimewaan yang menarik dalam tulisannya ialah pembahasan yang didasarkan pada ajaran islam dan dikombinasikan dengan pemikiran yang lain sebagai pelengkap, seperti filsafat yunani dan Persia, yang di maksud sumber pelengkap dalam sumber lain baru diambil jika sejalan dengan ajaran islam dan sebaliknya ia tolak, jika tidak demikian.
Akhak menuruit konsep Ibnu Miskawaih, ialah suatu sikap mental atau keadaan yang mendorongnya untuk berbuat tanpa pikir dan pertimbangan. Sementara tingkah laku manusia terbagi menjadi dua unsur, yakni unsur naluriah dan unsur lewat kebiasaan dan latihan.Berdasarkan ide di atas, secara tidak langsung Ibnu Miskawaih menolak pandangan orang orang yunani yang mengatakan bahwa akhlak manusia tidak dapat berubah. Bagi Ibnu Miskawaih akhlak yang tercela bisa berubah menjadi akhlak yang terpuji dengan jalan pendidikan dan latihan-latihan. Pemikiran seperti ini sejalan dengan pemikiran dan ajaran islam karena secara eksplisit telah mengisyaratkan ke arah ini dan pada hakikatnya syariat agama bertujuan untuk mengokohkan dan memperbaiki akhlak manusia, karena kebenaran ini tidak dapat di bantah sedangkan sifat binatang saja bisa berubah jadi liar menjadi jinak, apalagi akhlak manusia.
Ibnu Miskawaih juga menjelaskan sifat sifat yang utama, sifat sifat ini menurutnya erat kaitannya dengan jiwa. Jiwa memiliki tiga daya, yakni daya marah, daya berfikir, dan daya keinginan. Sifat Hikmah adalah sifat utama bagi jiwa berfikir yang lahir dari ilmu. Berani adalah sifat utama bagi jiwa marah yang timbul dari jiwa hilm, sementara Murah adalah sifat utama pada jiwa keinginan lahir dari iffah. Dengan demikian ada tiga sifat utama yaitu hikmah, berani dan murah, apabila ketiga sifat utama ini serasi,muncul sifat utama yang keempat, yakni adil. Dalam kitab Al-Akhlak Ibnu Miskawaih juga memaparkan kebahagian, menurutnya meliputi jasmani dan rohani. Pendapatnya ini merupakan gabungan antara pendapat plato dan Aristoteles. Menurut plato kebahagian yang sebenarnya adalah kebahagian rohani. Hal ini dapat diperoleh manusia apabila rohaniyah telah berpisah dengan jasadnya. Dengan redaksi lain selama rohaniyah masih terikat pada jasadnya, yang selalu menghalanginya mencara hikmah, kebahagiaan dimaksud tidak akan tercapai. Sebaliknya Aristoteles berpendapat bahwa kebahagian dapat di capai dalam kehidupan di dunia ini, namun kebahagian tersebut berbeda di antara manusia, seperti orang miskin kebahagiaanya adalah kekayaan, yang sakit pada kesehatan dan lainnya.
Uraian di atas adapat dijadikan bukti bukti bahwa pemikiran Ibnu Miskawaih dasar pokoknya adalah ajaran islam. Sementara gabungan pendapat plato Aristoteles merupakan pemikiran pelengkap yang ia terima karena tidak bertentangan dengan ajaran Islam
C.     Persamaan dan perbedaan Filsafat Ibnu Ruysd  dan Ibnu Miskawaih
1.Titik persamaan
Mengenai Tuhan, menurut Ibnu Ruysd dan Ibnu Miskawaih Tuhan adalah penggerak utama yang tidak bergerak dan pencipta yang tidak berubah – ubah.
Matahari terbit dari timur tenggelam di sebelah Barat, pergantian malam dan siang dan planet – planet nya bergerak dengan keteraturan dan gerakan – gerakan ini menjadi dalil adanya  penggerak pertama yang tidak digerakkan.
Komentar Penulis : Kedua tokoh tersebut mendasari keyakinannya kepada Allah sesuai dengan keyakinan fitrah yang dia miliki sehingga Ibnu Miskawaih ada yang menyebutnya dengan ahli filosof religius sejati, lalu mereka padukan dengan konsep – konsep filsafat yang mereka  tekuni seperti pemikiran Aristoteles.
2    Titik Perbedaan
Antara Ibnu Ruysd dan Ibnu Miskawaih dapat dikemukakan perbedaan, sebagai berikut:
Dalam hal akal Ibnu Ruysd berpendapat bahwa  akal merupakan aspek fungsionalnya sebagai agen intelek. Agen intelek merupakan penghubung dan pembawa material intelek yang tidak ada di dalam aktualitas menjadi ada dan terpikirkan didalam aktualitas dan Ibnu Rusyd tidak menyebutkan adanya istilah akal aktif  sedangkan Ibnu Miskawaih menyebutkan adanya istilah  akal aktif (‘Aqlu Fa’al) yaitu entitas  pertama yang memancar dari Tuhan, Akal aktif ini tanpa perantara sesuatu pun, Ia kekal, sempurna dan tak berubah. Pancaran yang terus menerus dari Tuhan dapat memelihara tatanan di alam ini.
Komentar Penulis : Perbedaan ini terjadi karena Ibnu Rusyd dalam Masalah Akal lebih berkiblat kepada tiori Anaxagoras sementara Ibnu Miskawaih dalam leteratur yang ada disebutkan beliau mendasari pendapatnya melaui pemikiran yang dia bangun sendiri.


DAFTAR PUSTAKA
Drs. Hasan Basri, M.Ag Modul Filsafat Program Peningkata Kualifikasi Guru MI/SD: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, 2009. Hanafi, Ahmad. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1991. Zar, Sirajuddin. Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004.




Nama : TUHRANUDDIN
Alamat : Gb Baret I Mb daya

Artikel Terkait Pendidikan

No comments:

Post a Comment