PENTINGNYA MANAJEMEN DALAM PENGELOLAAN PENDIDIKAN


By. Junianto.M.Pd
Kepala SMP Negeri 1 Enok

A. Pendahuluan

Bertolak dari asumsi bahwa life is education and education is life
dalam arti pendidikan sebagai persoalan hidup dan kehidupan maka
diskursus seputar pendidikan merupakan salah satu topik yang selalu
menarik. Setidaknya ada dua alasan yang dapat diidentifikasi sehingga
pendidikan tetap up to date untuk dikaji. Pertama, kebutuhan akan
pendidikan memang pada hakikatnya krusial karena bertautan langsung
dengan ranah hidup dan kehidupan manusia. Membincangkan pendidikan
berarti berbicara kebutuhan primer manusia. Kedua, pendidikan juga
merupakan wahana strategis bagi upaya perbaikan mutu kehidupan
manusia, yang ditandai dengan meningkatnya level kesejahteraan,
menurunnya derajat kemiskinan dan terbukanya berbagai alternatif opsi
dan peluang mengaktualisasikan diri di masa depan.
Dalam tataran nilai, pendidikan mempunyai peran vital sebagai
pendorong individu dan warga masyarakat untuk meraih progresivitas
pada semua lini kehidupan. Di samping itu, pendidikan dapat menjadi

determinan penting bagi proses transformasi personal maupun sosial.
Dan sesungguhnya inilah idealisme pendidikan yang mensyaratkan adanya
pemberdayaan.
Namun dalam tataran ideal, pergeseran paradigma yang awalnya memandang
lembaga pendidikan sebagai lembaga sosial, kini dipandang sebagai
suatu lahan bisnis basah yang mengindikasikan perlunya perubahan
pengelolaan. Perubahan pengelolaan tersebut harus seirama dengan
tuntutan zaman.
Situasi, kondisi dan tuntutan pasca booming-nya era reformasi membawa
konsekuensi kepada pengelola pendidikan untuk melihat kebutuhan
kehidupan di masa depan. Maka merupakan hal yang logis ketika
pengelola pendidikan mengambil langkah antisipatif untuk mempersiapkan
diri bertahan pada zamannya. Mempertahankan diri dengan tetap mengacu
pada pembenahan total mutu pendidikan berkaitan erat dengan manajemen
pendidikan adalah sebuah keniscayaan

1. Pengertian Manajemen
Perkembangan dinamis aplikasi manajemen berangkat dari keragaman
definisi tentang manajemen. Semula, manajemen yang berasal dari
bahasa Inggris: management dengan kata kerja to manage, diartikan
secara umum sebagai mengurusi atau kemampuan menjalankan dan
mengontrol suatu urusan atau "act of running and controlling a
business" (Oxford, 2005). Selanjutnya definisi manajemen berkembang
lebih lengkap. Stoner (1986) mengartikan manajemen sebagai proses
perencanaan, pengorganisasian, memimpin dan mengawasi usaha-usaha dari
anggota organisasi dan dari sumber-sumber organisasi lainnya untuk
mencapai organisasi yang telah ditetapkan. G.R. Terry (1986)
–sebagaimana dikutip Malayu S.P Hasibuan (1996)- memandang manajemen
sebagai suatu proses, sebagai berikut: "Management is a distinct
process consisting of planning, organizing, actuating and controlling
performed to determine and accomplish stated objectives by the use of
human being and other resources". Sementara, Malayu S.P. Hasibuan
(1995) dalam bukunya "Manajemen Sumber Daya Manusia" mengemukakan
bahwa manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan
sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan
efisien untuk mencapai tujuan tertentu.
Manajemen kemudian diartikan sebagai suatu rentetan langkah yang
terpadu untuk mengembangkan suatu organisasi sebagai suatu system yang
bersifat sosio-ekonomi-teknis; dimana system adalah suatu kesatuan
dinamis yang terdiri dari bagian-bagian yang berhubungan secara
organik; dinamis berarti bergerak, berkembang ke arah suatu tujuan;
sosio (social) berarti yang bergerak di dalam dan yang menggerakkan
sistem itu adalah manusia; ekonomi berarti kegiatan dalam sistem
bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia; dan teknis berarti dalam
kegiatan dipakai harta, alat-alat dan cara-cara tertentu (Kadarman,
1991).
Dengan demikian, manajemen merupakan kebutuhan yang niscaya untuk
memudahkan pencapaian tujuan manusia dalam organisasi, serta mengelola
berbagai sumberdaya organisasi, seperti sarana dan prasarana, waktu,
SDM, metode dan lainnya secara efektif, inovatif, kreatif, solutif,
dan efisien.
2. Urgensi Manajemen dalam Pengelolaan Pendidikan
Kepekaan melihat kondisi global yang bergulir dan peluang masa depan
menjadi modal utama untuk mengadakan perubahan paradigma dalam
manajemen pendidikan. Modal ini akan dapat menjadi pijakan yang kuat
untuk mengembangkan pendidikan. Pada titik inilah diperlukan berbagai
komitmen untuk perbaikan kualitas. Ketika melihat peluang, dan peluang
itu dijadikan modal, kemudian modal menjadi pijakan untuk
mengembangkan pendidikan yang disertai komitmen yang tinggi, maka
secara otomatis akan terjadi sebuah efek domino (positif) dalam
pengelolaan organisasi, strategi, SDM, pendidikan dan pengajaran,
biaya, serta marketing pendidikan.
Untuk menuju point education change (perubahan pendidikan) secara
menyeluruh, maka manajemen pendidikan adalah hal yang harus
diprioritaskan untuk kelangsungan pendidikan sehingga menghasilkan
out-put yang diinginkan. Walaupun masih terdapat institusi pendidikan
yang belum memiliki manajemen yang bagus dalam pengelolaan
pendidikannya. Manajemen yang digunakan masih konvensional, sehingga
kurang bisa menjawab tantangan zaman dan terkesan tertinggal dari
modernitas.
Jika manajemen pendidikan sudah tertata dengan baik dan membumi,
niscaya tidak akan lagi terdengar tentang pelayanan sekolah yang
buruk, minimnya profesionalisme tenaga pengajar, sarana-prasarana
tidak memadai, pungutan liar, hingga kekerasan dalam pendidikan.
Manajemen dalam sebuah organisasi pada dasarnya dimaksudkan sebagai
suatu proses (aktivitas) penentuan dan pencapaian tujuan organisasi
melalui pelaksanaan empat fungsi dasar: planning, organizing,
actuating, dan controlling dalam penggunaan sumberdaya organisasi.
Karena itulah, aplikasi manajemen organisasi hakikatnya adalah juga
amal perbuatan SDM organisasi yang bersangkutan.
a. Planning
Satu-satunya hal yang pasti di masa depan dari organisasi apapun
termasuk lembaga pendidikan adalah perubahan, dan perencanaan penting
untuk menjembatani masa kini dan masa depan yang meningkatkan
kemungkinan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Mondy dan Premeaux
(1995) menjelaskan bahwa perencanaan merupakan proses menentukan apa
yang seharusnya dicapai dan bagaimana mewujudkannya dalam kenyataan.
Perencanaan amat penting untuk implementasi strategi dan evaluasi
strategi yang berhasil, terutama karena aktivitas pengorganisasian,
pemotivasian, penunjukkan staff, dan pengendalian tergantung pada
perencanaan yang baik (Fred R. David, 2004).
Dalam dinamika masyarakat, organisasi beradaptasi kepada tuntunan
perubahan melalui perencanaan. Menurut Johnson (1973) bahwa: "The
planning process can be considered as the vehicle for accomplishment
of system change". Tanpa perencanaan sistem tersebut tak dapat berubah
dan tidak dapat menyesuaikan diri dengan kekuatan-kekuatan lingkungan
yang berbeda. Dalam sistem terbuka, perubahan dalam sistem terjadi
apabila kekuatan lingkungan menghendaki atau menuntut bahwa suatu
keseimbangan baru perlu diciptakan dalam organisasi tergantung pada
rasionalitas pembuat keputusan. Bagi sistem sosial, satu-satunya
wahana untuk perubahan inovasi dan kesanggupan menyesuaikan diri ialah
pengambilan keputusan manusia dan proses perencanaan.
Dalam konteks lembaga pendidikan, untuk menyusun kegiatan lembaga
pendidikan, diperlukan data yang banyak dan valid, pertimbangan dan
pemikiran oleh sejumlah orang yang berkaitan dengan hal yang
direncanakan. Oleh karena itu kegiatan perencanaan sebaiknya
melibatkan setiap unsur lembaga pendidikan tersebut dalam rangka
peningkatan mutu pendidikan.
Menurut Rusyan (1992) ada beberapa hal yang penting dilaksanakan terus
menerus dalam manajemen pendidikan sebagai implementasi perencanaan,
diantaranya:
- Merinci tujuan dan menerangkan kepada setiap pegawai/personil
lembaga pendidikan.
- Menerangkan atau menjelaskan mengapa unit organisasi diadakan.
- Menentukan tugas dan fungsi, mengadakan pembagian dan pengelompokkan
tugas terhadap masing-masing personil.
- Menetapkan kebijaksanaan umum, metode, prosedur dan petunjuk
pelaksanaan lainnya.
- Mempersiapkan uraian jabatan dan merumuskan rencana/sekala pengkajian.
- Memilih para staf (pelaksana), administrator dan melakukan pengawasan.
- Merumuskan jadwal pelaksanaan, pembakuan hasil kerja (kinerja), pola
pengisian staf dan formulir laporan pengajuan.
- Menentukan keperluan tenaga kerja, biaya (uang) material dan tempat.
- Menyiapkan anggaran dan mengamankan dana.
- Menghemat ruangan dan alat-alat perlengkapan.


Hirarki Rencana


Visi,
Misi,
Tujuan
Sasaran
Strategi
Kebijakan
Prosedur dan Kebijakan
Program
Anggaran

Sumber: Terry (1986); Kadarman et.al (1996)

b. Organizing
Tujuan pengorganisasian adalah mencapai usaha terkoordinasi dengan
menerapkan tugas dan hubungan wewenang. Malayu S.P. Hasbuan (1995)
mendifinisikan pengorganisasian sebagai suatu proses penentuan,
pengelompokkan dan pengaturan bermacam-macam aktivitas yang diperlukan
untuk mencapai tujuan, menempatkan orang-orang pada setiap aktivitas
ini, menyediakan alat-alat yang diperlukan, menetapkan wewenang yang
secara relative didelegasikan kepada setiap individu yang akan
melakukan aktivitas-aktivitas tersebut. Pengorganisasian fungsi
manajemen dapat dilihat terdiri dari tiga aktivitas berurutan:
membagi-bagi tugas menjadi pekerjaan yang lebih sempit (spesialisasi
pekerjaan), menggabungkan pekerjaan untuk membentuk departemen
(departementalisasi), dan mendelegasikan wewenang (Fred R. David,
2004).
Dalam konteks pendidikan, pengorganisasian merupakan salah satu
aktivitas manajerial yang juga menentukan berlangsungnya kegiatan
kependidikan sebagaimana yang diharapkan. Lembaga pendidikan sebagai
suatu organisasi memiliki berbagai unsur yang terpadu dalam suatu
sistem yang harus terorganisir secara rapih dan tepat, baik tujuan,
personil, manajemen, teknologi, siswa/member, kurikulum, uang, metode,
fasilitas, dan faktor luar seperti masyarakat dan lingkungan sosial
budaya.
Sutisna (1985) mengemukakan bahwa organisasi yang baik senantiasa
mempunyai dan menggunakan tujuan, kewenangan, dan pengetahuan dalam
melakukan pekerjaan-pekerjaan. Dalam organisasi yang baik semua
bagiannya bekerja dalam keselarasan seakan-akan menjadi sebagian dari
keseluruhan yang tak terpisahkan. Semua itu baru dapat dicapai oleh
organisasi pendidikan, manakala dilakukan upaya: 1) Menyusun struktur
kelembagaan, 2) Mengembangkan prosedur yang berlaku, 3) Menentukan
persyaratan bagi instruktur dan karyawan yang diterima, 4) Membagi
sumber daya instruktur dan karyawan yang ada dalam pekerjaan.
c. Actuating
Dalam pembahasan fungsi pengarahan, aspek kepemimpinan merupakan salah
satu aspek yang sangat penting. Sehingga definisi fungsi pengarahan
selalu dimulai dimulai dan dinilai cukup hanya dengan mendifinisikan
kepemimpinan itu sendiri.
Menurut Kadarman (1996) kepemimpinan dapat diartikan sebagai seni atau
proses untuk mempengaruhi dan mengarahkan orang lain agar mereka mau
berusaha untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai oleh kelompok.
Kepemimpinan juga dapat didefinisikan sebagai suatu kemampuan, proses
atau fungsi yang digunakan untuk mempengaruhi dan mengarahkan orang
lain untuk berbuat sesuatu dalam rangka mencapai tujuan tertentu.
Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa seorang pemimpin
bertugas untuk memotivasi, mendorong dan memberi keyakinan kepada
orang yang dipimpinnya dalam suatu entitas atau kelompok, baik itu
individu sebagai entitas terkecil sebuah komunitas ataupun hingga
skala negara, untuk mencapai tujuan sesuai dengan kapasitas kemampuan
yang dimiliki. Pemimpin juga harus dapat memfasilitasi anggotanya
dalam mencapai tujuannya. Ketika pemimpin telah berhasil membawa
organisasinya mencapai tujuannya, maka saat itu dapat dianalogikan
bahwa ia telah berhasil menggerakkan organisasinya dalam arah yang
sama tanpa paksaan.
Dalam konteks lembaga pendidikan, kepemimpinan pada gilirannya
bermuara pada pencapaian visi dan misi organisasi atau lembaga
pendidikan yang dilihat dari mutu pembelajaran yang dicapai dengan
sungguh-sungguh oleh semua personil lembaga pendidikan. Soetopo dan
Soemanto (1982) menjelaskan bahwa kepemimpinan pendidikan ialah
kemampuan untuk mempengaruhi dan menggerakkan orang lain untuk
mencapai tujuan pendidikan secara bebas dan sukarela. Di dalam
kepemimpinan pendidikan sebagaimana dijalankan pimpinan harus
dilandasi konsep demokratisasi, spesialisasi tugas, pendelegasian
wewenang, profesionalitas dan integrasi tugas untuk mencapai tujuan
bersama yaitu tujuan organisasi, tujuan individu dan tujuan
pemimpinnya.
Ada tiga keterampilan pokok yang dikemukakan Hersey dan Blanchard
(1988) -sebagaimana dikutip oleh Syafaruddin (2005) dalam bukunya
Manajemen Lembaga Pendidikan Islam- yang berlaku umum bagi setiap
pimpinan termasuk pimpinan lembaga pendidikan, yaitu:
1. Technical skill-ability to use knowledge, methods, techniques and
equipment necessary for the performance of specific tasks acquired
from experiences, education and training.
2. Human skill-ability and judgment in working with and through
people, including in understanding of motivation and an application of
effective leadership.
3. Conceptual skill-ability to understand the complexities of the
overall organization and where one's own operation fits into the
organization. This knowledge permits one to act according to the
objectives of the total organization rather than only on the basis of
the goals and needs of one's own immediate group.
d. Controling
Sebagaimana yang dikutif Muhammad Ismail Yusanto (2003), Mockler
(1994) mendifinisikan pengawasan sebagai suatu upaya sistematis untuk
menetapkan standar prestasi kerja dengan tujuan perencanaan untuk
mendesain sistem umpan balik informasi; untuk membandingkan prestasi
sesungguhnya dengan standar yang telah ditetapkan itu; menentukan
apakah ada penyimpangan dan mengukur signifikansi penyimpangan
tersebut; dan mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan untuk
menjamin bahwa semua sumberdaya perusahaan telah digunakan dengan cara
yang paling efekif dan efisien guna tercapainya tujuan perusahaan.
Dalam konteks pendidikan, Depdiknas (1999) mengistilahkan pengawasan
sebagai pengawasan program pengajaran dan pembelajaran atau supervisi
yang harus diterapkan sebagai berikut:
1) Pengawasan yang dilakukan pimpinan dengan memfokuskan pada usaha
mengatasi hambatan yang dihadapi para instruktur atau staf dan tidak
semata-mata mencari kesalahan.
2) Bantuan dan bimbingan diberikan secara tidak langsung. Para staf
diberikan dorongan untuk memperbaiki dirinya sendiri, sedangkan
pimpinan hanya membantu.
3) Pengawasan dalam bentuk saran yang efektif
4) Pengawasan yang dilakukan secara periodik.

3. Efektifitas Manajemen dalam Lembaga Pendidikan
Dalam ranah aktivitas, implementasi manajemen terhadap pengelolaan
pendidikan haruslah berorientasi pada efektivitas terhadap segala
aspek pendidikan baik dalam pertumbuhan, perkembangan, maupun
keberkahan (dalam perspektif syariah). Berikut ini merupakan urgensi
manajemen terhadap bidang manajemen pendidikan:
a. Manajemen Kurikulum
1) Mengupayakan efektifitas perencanaan
2) Mengupayakan efektifitas pengorganisasian dan koordinasi
3) Mengupayakan efektifitas pelaksanaan
4) Mengupayakan efektifitas pengendalian/pengawasan
b. Manajemen Personalia
Manajemen ini berkisar pada staff development (teacher development), meliputi:
1) Training
2) Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP)
3) Inservice Education (Pendidikan Lanjutan)
c. Manajemen Siswa
1) Penerimaan Siswa (Daya Tampung, Seleksi)
2) Pembinaan Siswa (Pengelompokkan, Kenaikan Kelas, Penentuan Program, Ekskul)
3) Pemberdayaan OSIS
d. Manajemen Keuangan
Dalam keuangan pengelolaan pendidikan, manajemen harus berlandaskan
pada prinsip: efektivitas, efisiensi dan pemerataan .
e. Manajemen Lingkungan
Urgensi manajemen terhadap lingkungan pendidikan bertujuan dalam
merangkul seluruh pihak terkait yang akan berpengaruh dalam segala
kebijakan dan keberlangsungan pendidikan. Manajemen ini berupaya
mewujudkan cooperation with Society dan stake holder identification.






C. Penutup

Berkenaan dengan manajemen pendidikan, Islam telah menggariskan bahwa
hakikat amal perbuatan haruslah berorientasi bagi pencapaian ridla
Allah SWT. Bila perbuatan manusia memenuhi dua syarat itu sekaligus,
maka amal itu tergolong ahsan (ahsanul amal), yakni amal terbaik di
sisi Allah SWT. Dengan demikian, keberadaan manajemen organisasi
dipandang pula sebagai suatu sarana untuk memudahkan implementasi
Islam dalam kegiatan organisasi tersebut. Implementasi nilai-nilai
Islam berwujud pada difungsikannya Islam sebagai kaidah berpikir dan
kaidah amal dalam seluruh kegiatan organisasi. Nilai-nilai Islam
inilah sesungguhnya nilai utama organisasi yang menjadi payung
strategis hingga taktis seluruh aktivitas organisasi.
Sebagai kaidah berpikir, aqidah dan syariah difungsikan sebagai asas
atau landasan pola pikir dalam beraktivitas. Sedangkan sebagai kaidah
amal, syariah difungsikan sebagai tolok ukur kegiatan. Tolok ukur
syariah digunakan untuk membedakan aktivitas yang halal atau haram.
Hanya kegiatan yang halal saja yang dilakukan oleh seorang muslim,
sementara yang haram akan ditinggalkan semata-mata untuk menggapai
keridloan Allah SWT.













Daftar Pustaka

David, R. Fred. 2004. Konsep Manajemen Strategis, Edisi VII
(terjemahan). Jakarta, PT Indeks.
Hasibuan, S.P. Malayu. 1995. Manajemen Sumber Daya Manusia, cetakan
II. Jakarta, PT Toko Gunung Agung.
__________________. 1996. Manajemen, Dasar, Pengertian dan Masalah,
Cetakan I. Jakarta, PT Toko Gunung Agung.
Ismail, M. Yusanto. 2003. Pengantar Manajemen Syariat, Cetakan II.
Jakarta, Khairul Bayan.
Johnson, R.A. 1973. The Theory and Management of System. Tokyo: McGraw
Hill Kogakusha.
Kadarman, A.M. et.al. 1996. Pengantar Ilmu Manajemen. Jakarta, Gramedia.
Mondy, R.W.and Premeaux, S.H. 1995. Management: Concepts, Practices
and Skills. New Jersey, Prentice Hall Inc Englewood Cliffs.
Oxford, Learner's Pocket Dictionary. 2005. Newyork, Oxford University Press.
Rusyan, A. Tabrani. 1992. Manajemen Kependidikan. Bandung: Media Pustaka.
Soetopo, Hendiyat dan Soemanto, Wasty. 1982. Pengantar Operasional
Administrasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
Sutisna, Oteng. 1985. Administrasi Pendidikan. Bandung: Angkasa.
Syafaruddin. 2005. Manajemen Lembaga Pendidikan Islam, Cetakan I.
Jakarta: Ciputat Press.



Nama : JUNIANTO,S.Pd,.M.Pd
Alamat : JALAN PENDIDIKAN NO.01 ENOK

Artikel Terkait Pendidikan

No comments:

Post a Comment