Showing posts with label Muallaf. Show all posts
Showing posts with label Muallaf. Show all posts

Daniel Streich, Pembenci Masjid Akhirnya Bersujud

Daniel Streich, pembenci masjid akhirnya bersujud

Daniel Streich, anggota Partai Rakyat Swiss (SVP) menjadi sosok terkenal. Bukan saja awalnya dia sangat menentang keras pembangunan masjid di negaranya, melainkan dirinya secara mengejutkan berpindah haluan menjadi seorang muslim.

Situs islamicbulettin.com melaporkan Streich penganut kristen taat. Dia dibesarkan dengan ajaran Kristiani dan semasa kecil pernah bercita-cita menjadi pastor. Namun ketika remaja niatnya berubah. Ia mulai gemar berpolitik dan tanpa ragu terjun langsung menjadi anggota partai ternama di Swiss.

SVP bukan partai sembarangan. Di dalamnya terdiri dari cendekia, ilmuwan, pelajar, dan pegiat bukan dari kalangan muslim. Partai ini menjadi penentang nomor wahid penyebaran Islam di Swiss dan Streich paling vokal menyerukan penutupan masjiddi seantero Negeri Cokelat ini.

Streich mempropagandakan anti-Islam ke seluruh negaranya. Ia menaburkan benih-benih kemarahan dan cemoohan bagi umat Islam di Swiss. Ia merasa mimbar dan kubah masjid tidak cocok dengan budaya negara itu. Ia juga menuding Islam agama teroris, pembuat onar, dan kekerasan.

Dalam usahanya menyingkirkan Islam dari Swiss, lelaki ini malah mempelajari Alquran dan Islam. Ia berharap dengan memahami ajaran Nabi Muhammad itu, dia mampu meruntuhkan iman kaum muslim. Yang terjadi, ia malah terpesona dengan agama rahmatan lil alamin ini. 

Semakin jauh Streich belajar Islam, semakin tenggelam dia dalam keindahan agama samawi itu. "Banyak perbedaan saya dapatkan ketika mempelajari Islam. Agama ini memberikan saya jawaban logis atas pertanyaan hidup penting dan tidak saya temukan di agama saya," katanya.

Presiden Organisasi Konferensi Islam (OKI) Abdul Majid Aldai mengatakan orang Eropa sebenarnya memiliki keinginan besar mengetahui Islam dan hubungan antara Islam dengan terorisme, sama halnya dengan Streich.

Dulu, Streich sering meluangkan waktu membaca Alkitab dan pergi ke gereja, tapi sekarang ia membaca Alquran dan melakukan salat lima waktu setiap hari. Dia keluar dari SVP dan mengumumkan status muslimnya. Streich bilang telah menemukan kebenaran hidup dalam Islam yang tidak dapat ia temukan dalam agama sebelumnya. www.merdeka.com


readmore »»  

Kisah Ibu dan Anak yang Sama-sama Mencari 'Tuhan' dan Menemukannya dalam Islam

Kisah Ibu dan Anak yang Sama-sama Mencari 'Tuhan' dan Menemukannya dalam Islam


DUBLIN - Biasanya di Barat, adalah anak dan bukan orang tuanya yang menjadi mualaf. Tidak demikian dengan Aisha dan Phildel, anaknya. Aisha, keturunan Irlandia, suatu hari memutuskan bahwa dia harus memeluk Islam apapun resikonya. termasuk, kemungkinan akan membuat Phildel, putri semata wayangnya, kecewa. 

Di sisi lain, Phildel merasakan hal yang sama. Pencariannya tentang Tuhan, berujung pada Islam. Berikut kisah keduanya:

Aisha: Aku dilahirkan dalam sebuah keluarga Katolik Roma di Dublin pada tahun 1960-an. Sementara Dublin tampak seolah 'terjebak' di abad ke-19, tepat di seberang Laut Irlandia budaya hippie tumbuh subur di London. Sebagai seorang anak, saya bertanya banyak pertanyaan selama pendidikan di sekolah biara. Diskusi agama selain Katolik Roma atau "kejahatan Protestantisme" benar-benar tidak ada.

Pada usia 16 tahun aku meninggalkan Dublin dan datang ke London. Aku larut dalam kebiasaan anak muda  yang 'normal' di kota itu: melakukan kunjungan rutin ke pub dan klub. Tapi aku melihat teman-temanku selalu depresi. 

usia 20-an tahun, aku memutuskan menikah dan melahirkan putri pertamayang jelita, Phildel. Aku sangat senang tetapi sering merasa seperti sebuah pasak persegi di lubang bundar; seolah-olah aku masih belum menemukan tempat yang tepat bagiku.

Suatu hari aku berbicara dengan seorang wanita mengenakan jilbab. Dia bilang dirinya Muslim dan itu adalah pertama kalinya aku pernah mendengar kata itu. Pada perkembangan berikutnya, di tempat kerja, saya mengenal beberapa Muslim dan mereka mulai bercerita lebih banyak tentang Islam.

Suatu malam aku menemukan diriku berjalan di jalanan dengan Phildel di bawah hujan dan tak tahu harus kemana, setelah bertengkar hebat dengan suamiku dan kami diusir. Aku ingat mengangkat mataku ke langit dan memohon pada Tuhan untuk membantuku entah bagaimana atau memberiku suatu pertanda kalau Dia ada. Entah bagaimana caranya, kami sampai di sebuah rumah yang ternayata milik perempuan berjilbab yang pertama kali aku mengenal Islam darinya!

Setelah menemukan rumah sendiri, aku mulai belajar Islam. Lama aku mempelajarinya, sebelum akhirnya yakin, Islamlah agama yang pas buatku. Phildel membuatku maju-mundur untuk bersyahadat, namun akhirnya aku kuatkan hati dan menjadi Muslim. Aku kini sudah menikah lagi dengan pria Muslim dan memiliki seorang anak dengannya, Amina namanya. 

Phildel, yang aku besarkan sebagai seorang Katolik Roma sampai perceraianku, tanpa aku sadari sangat antusias tentang Islam dan mengatakan syahadat sendiri. Dia kemudian memilih nama Zara. Phildel kini memilih tinggal dengan ayahnya.


Phildel: ibuku dan aku sangat dekat, tidak ada seorang pun di dunia ini yang aku cintai selain dia. Pada tahun-tahun menjelang perceraian orang tuaku, kami menghabiskan lebih banyak waktu di sekitar keluarga Muslim. 

Setelah perceraian kehidupan kami menjadi semakin sulit; pernikahan orang tuaku mencapai titik yang paling bergolak dan aku lebih dari lega ketika seluruh cobaan berat itu berakhir. Aku menandai perubahan yang positif dalam diri ibu dan ayah saya segera setelah mereka berpisah. Saya pikir sekitar waktu ini ibu saya mengalami pengalaman yang membangkitkan semangat luar biasa di rumah seorang teman dan kemudian menjadi seorang Muslim. 

Aku? Meskipun aku tidak pernah dipaksa untuk menjadi seorang Muslim, saya menyadari langkahku menjadi Muslim adalah hasil pengaruh lingkungan. Aku tumbuh di sekitar keluarga Muslim, maka secara tak langsung pikiranku ternegaruh. Itulah sebabnya, setelah bersyahadat, aku sempat kembali ke agama lama; hanya untuk meyakinkanku agama apa sebetulnya yang dipilih hatiku. 

Kini aku tinggal terpisah dari ibu - aku tinggal bersama ayah kandungku - dan berpikir Islam adalah agama yang indah. Aku senang membantu di masjid dan berbicara dengan saudara-saudara Muslimku. Kurasa aku hanya ingin mengalami sesuatu yang membuatku tahu ini adalah arah yang perlu aku ambil, arah yang benar, yaitu menjadi Muslim. 

Jadi sampai sekarang aku masih belajar.




sumber : Republika.co.id
readmore »»  

Tuhan Bisa Mati? Mendengar Itu Abdur Raheem Green Serasa Ditinju Mike Tyson di Wajah

Tuhan Bisa Mati? Mendengar Itu Abdur Raheem Green Serasa Ditinju Mike Tyson di Wajah


ika bertanya kepada Anthony Vatswaf Galvin Green bagaimana rasanya menjadi seorang muslim, ia akan menjawab seperti menemukan cahaya dalam kegelapan. "Bayangkan jika terjebak di sebuah bangunan yang penuh rintangan meja, kursi, tapi gelap tak bisa melihat apapun," ujarnhya Tapi tiba-tiba saja menemukan jalan keluar dan ia mengaku mencari jalan keluar itu dengan susah payah.

Menemukan jalan itu seperti membuka pintu, lalu menemukan cahaya terang, dan semuanya kemudian terlihat jelas. Ia rela menemukan pintu keluar itu meski harus membenturkan dirinya ke tembok. “Bisa merasakan perbedaan hidup dan mati. Islam membawa kedamaian dan ketentraman,”kesannya.

Lahir dari ibu penganut Katolik Roma yang taat dan ayah seorang agnostik, Anthony dibesarkan sebagai seorang Katolik Roma yang taat.  Ayahnya seorang administrator kolonilal kerajaan Inggris. Kini, kerajaan yang terbentang begitu luasnya lebih dari sepertiga permukaan bumi itu telah hancur. Satu-satunya yang tersisa adalah beberapa pulau di Falklands. Begitu banyak hal yang berubah, termasuk Antony, bahkan namanya kini berubah mnejadi Abdur raheem Green.

“Semua itu pelajaran dari Allah. Ia memberitahu kita dalam Alquran untuk berjalan di bumi dan melihat konsekuensinya”, katanya.

Rasa bersalah dari sang ibu yang menikah dengan seorang agnostik, membuat ibu Anthony berambisi menjadikannya menjadi seorang penganut Katolik Roma yang taat. Anthony (10) dan sang adik, Duncan (8) disekolahkan di asrama biara. Setiap hari ia hidup bersama para biarawan di Ampleforth College, di Yorkshire, Inggris Utara.

“Seharusnya ibu juga menikah dengan seorang Katholik, tapi karena ibu menikah dengan ayah yang agnostik, ia merasa menjadi seorang penganut Katolik yang buruk. Maka, ia ingin menjadikanku seorang Katolik yang taat,” ujarnya. Sang ibu menganggap dengan bersekolah di asrama akan membuat Anthony menjadi penganut Katolik yang taat.

Saat Anthony berumur sembilan tahun, sang ibu mengajarinya sebuah doa yang biasa diucapkan oleh umat Katholik. Doa itu dimulai dengan kalimat "Salam maria, ibu Tuhan". Namun, kalimat itu membuat Anthony sangat tidak nyama.  Bahkan dalam usianya yang baru sembilan tahun, kalimat itu seperti pukulan pertama, mendengar ibu berkata salam maria ibu Allah

“Aku kemudian bertanya pada diri sendiri bagaimana Tuhan bisa memiliki ibu?,” katanya. Ia berpikir Tuhan seharusnya tanpa awal dan tanpa akhir. Bagaimana bisa Tuhan memiliki seorang ibu? Anthony kecil kemudian mengambil kesimpulan “jika Maria adalah ibu Tuhan, maka pasti Maria menjadi Tuhan lebih baik daripada Yesus”.

Belum lagi soal pelajaran di sekolahnya yang semakin membuatnya galau. Di sekolah, dalam satu kali setahun selalu ada pengakuan dosa kepada pastor. "Kamu harus mengakui semua dosa, jika tidak maka pengakuan dosa-dosamu tidak akan diampuni,” begitu kata pastur.

Ia mulai berpikir kritis, bagaimana mungkin mengakui dosa kepada seorang pastor. Apalagi menagakui dosa terhadap orang-orang yang notabene tinggal bersama dalam satu asrama. “Dengan kata lain mereka yang bertanggung jawab dari kita?,” begitu pikirnya. Ia mengasumsikan pengakuian ini sebagai adalah konspirasi besar dalam rangka untuk mengontrol orang dengan modus mengakui dosa.

“Mengapa saya harus pergi ke Anda untuk mengakui dosa-dosa saya? Mengapa saya tidak bisa meminta Tuhan untuk mengampuni saya?", katanya kepada pastor. Pastor itu menjawab bisa saja meminta ampun secara langsung kepada Tuhan, tapi tak ada jaminan Tuhan mendengan pengampunan dosanya.

Ia merasakan keimanannya semakin  ‘ada dalam masalah’. Pikirannya mulai liar, ia bahkan memiliki ide “Tuhan menjadi manusia”.

Masyarakat barat selalu berpikir jika ingin bahagia dan menikmati hidup, maka hanya ada satu jalan yaitu memiliki banyak uang. Dengan uang dapat membeli mobil bagus dan TV, pergi ke bioskop dan bisa membeli semua hal yang dibutuhkan untuk hidup. Pada kenyataannya Anthony sama sekali tidak merasakan hal itu.

Pikirannya mulai terbuka. Ia sering bertanya mengapa harus sekolah di asrama, jauh dari siapapun dan dimanapun. Saat berusia sebelas tahun, sang ayah dipindah tugaskan ke Mesir. Ayahnya menjadi General Manager Barclays Bank di Kairo. Hampir selama sepuluh tahun, ia selalu menghabiskan waktu liburan di Mesir. Sekolah di London, dan liburan di Mesir.

Ia mulai jatuh cinta pada Mesir. Saat kembali ke sekolah seusai liburan, ia bertanya untuk apa kembali ke asrama Yorkshire Moor, ia merasa tak menyukai tempat itu. “Saya mulai bertanya pada diri sendiri mengapa saya ada, apa tujuan hidup saya,hidup ini untuk apa? Apa itu cinta?”.

Ia pun mulai mempertanyakan hakikat hidup. ia menjawab sendiri pertanyaannya. “Aku sekolah disini dalam rangka belajar untuk mendapatkan hasil yang terbaik, agar bisa pergi ke universitas yang baik. Setelah itu dapat gelar, dapat pekerjaan yang membuat saya punya banyak uang. Jadi, kalau saya punya anak, bisa mengirim anak ke sekolah yang mahal,” begitu pikirnya. Tapi ia masih menanyakan untuk apa semua itu, ia tak yakin apa yang dipikirkannya adalah alasan untuk hidup yang sebenarnya.

Ia lantas mulai mencari jawaban, memulai pecarian. Pencarian itu barangkali bisa ditemukan melalui agama lain yang mungkin bisa memberikan  pemahaman tentang tujuan hidup.

Sepuluh tahun waktu yang di ia habiskan di Mesir. Ada satu masa saat ia berumur 19 tahun berbincang tentang Islam dengan seseorang. Ia memang meragukan Katholik sebagai agamanya. Tapi saat itu siapapun yang mempertanyakan agamanya itu, ia akan tetap membela keimanannya. Ia merasakan ini sebagai sebuah paradoks yang aneh.

“Aku berbincang dnegan orang itu selama 40 menit. Pemuda itu memintaku menjawab beberapa pertanyaan darinya,” katanya.

Si Pemuda menanyakan “apakah kau mempercayai Yesus?”, Anthoni menjawab “ya”. Pemuda itu kemudian bertanya lagi, “apakah kamu percaya Yesus mati disalib”, Anthoni kembali menjawab “ya”.

Sebuah pukulan telak, seperti mendapatkan tinju dari Mike Tyson ketika mendnegar si pemuda mengatakan “jadi kamu percaya Tuhan mati?”.

Seketika Anthony terperangah, menyadari sebuah ironi. Sambil mengakui kebodohan dirinya, ia menjawab, "tentu saja saya tidak percaya Tuhan mati. Manusia tidak bisa membunuh Tuhan,” kata Anthony.

“Saya lalu berpikir itu sebagai suatu hal yang menarik,” ujarnya.

Lupakan Agama, Lebih Baik Cari Uang

Ternyata ada satu masa pula dalam hidupnya ketika Anthony tak ingin berpikir lagi tentang agama. “Saya merokok dan minum kopi, tapi pertemuan dengan pemuda di Mesir menjadi titik balik dalam kehidupan saya,” katanya.

Sebelumnya saya tak pernah bermimpi bahkan memikirkan tentang Islam. Saya mulai berkata pada diri sendiri untuk melupakan soal agama, soal spiritualitas. “saya berpikir mungkin tak ada lagi kebahagiaan selain menjadi kaya,” ujarnya. Anthony kemudian bercita-cita bisa naik kapal pesiar atau pesawat jet pribadi agar bisa bahagia.

Ia berpikir bagaimana menghasilkan uang tapi hanya sedikit usaha. “Siapa yg ingin mengabiskan banyak waktu untuk bekerja?” pikirnya. Ia mengingat orang Inggris yang memiliki banyak uang tapi mereka bekerja terlalu keras, bahkan sampai terjadi revolusi industri. Orang Amerikapun harus berjuang keras untuk menjadi kaya. Orang Jepang pun dikenal sebagai penggila kerja.

“Kemudian saya berfikir tentang orang Arab. Mereka duduk di atas unta dan berteriak ‘Allahu Akbar’, tapi mereka kaya,” ujarnya.

Anthony mengira pasti ada sesautu disana. Ia lantas bertanya-tanya apa yang menjadi agama mereka dan kitab suci mereka.

Membaca Alquran

Alquran! Ya, Anthoni merasakan ketertarikan luar biasa untuk membeli Alquran. Ia mengambil terjemahannya. “Aku tak ingin mencari kebenaran. Aku hanya ingin tahu apa isi kitab suci ini,” katanya.

Anthony adalah pembaca yang cukup cepat. Ia membaca Alquran saat berada di kereta api.

Seketika itu pula ia menyimpulkan dan berkata pada diri sendiri, "Jika saya pernah membaca buku yang berasal dari Tuhan, maka ini dia bukunya.”

Ia menyakini Alquran itu berasal dari Allah. Ketika menyadari itu ia mulai bergerak lebih jauh, tak hanya membaca Alquran saja, tapi untuk mengamalkannya juga. “Sama saja seperti kita melihat apel yang terlihat harum, kita tak akan pernah tahu rasanya kalau tidak mencicipinya,” katanya.

Tertarik dengan pengamalan Alqurlan ia pun mulai mencoba untuk shalat meski saat itu ia belum resmi mengucap syahadat. Tak tahu bagaimana cara shalat, ia mengingat-ingat bagaimana seseorang yang pernah ia temui di Mesir melakukan shalat. “Saya mengingat seorang lelaki shalat dengan cara yang lebih indah dibandingan saya ketika masih menjadi Katholik,” katanya.

Suatu hari Anthony pergi ke toko buku yang kebetulan berada di dalam masjid. Toko itu memiliki koleksi buku tentang Muhammad dan tata cara shalat. Seorang pria menanyakan apakah ia seorang Muslim. Anthony lantas menjawab, “Apakah saya Muslim, apa yang ia maksud dengan itu? Saya bilang "Ya saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusannya."

"Ah, bila demikian, anda Muslim. Ini waktunya shalat, mari kita shalat," ajak si lelaki itu.

Anthony kebetulan datang ke toko buku itu saat hari Jumat. Ia yang tak paham gerakan shalat hanya berusaha shalat dengan gerakan yang ia tahu saja. Masih salah disana-sini. “Setelah itu orang-orang mengelilingi saya dan mengajarkan saya cara shalat yang benar.” Ia merasakan seperti berada di awan. "Rasanya Fantastis."

Namun butuh dua tahun lagi sebelum akhirnya ia resmi bersyahadat dan menjadi Muslim. Terlepas dari kenyataan ia kini telah masuk Islam, ia mengaku menyesal telah menyia-nyiakan waktu dua tahun sebelum menjalani Islam dengan baik.

“Aku tahu kebenaran tapi tak segera menjalankannya. Itu adalah kondisi yang buruk. Jika kita tidak tahu, maka tidak dikenai dosa. Tapi masalahnya saya tahu apa yang benar,” katanya. Setelah itu ia tak pernah menoleh ke belakang. Kini ia mengaku belajar banyak dari pengalaman itu untuk ber-Islam dengan lebih baik.



sumber : Republika.co.id
readmore »»  

Jerry Duane Gray, Tersentuh Sikap Toleran




Agama kekerasan’, itulah citra negatif yang disematkan sebagian kalangan warga Barat terhadap Islam. Persepsi ini pula yang pada awalnya hinggap di benak Jerry Duane Gray ketika dia masih tinggal di Amerika Serikat (AS) dan bekerja di Angkatan Udara AS.
Dengan alasan ini pula, pria kelahiran Wiesbaden, Jerman, itu sempat mengemukakan keberatan ketika harus bertugas di Arab Saudi. Dia enggan masuk ke negara kerajaan itu karena takut terhadap orang Arab dan Islam.
Tapi, tugas tetap harus dilaksanakan. Maka, berangkatkah Jerry ke Timur Tengah sekitar tahun 1982. Dia menjadi mekanik pesawat AU AS serta instruktur di New Saudi Mechanics.
Di antara pesawat yang ditanganinya itu, terdapat pesawat pribadi Raja Fahd. Karena profesionalitas dan dedikasinya sebagai mekanik handal, Jerry pernah menerima surat dari raja sebagai bentuk pujian serta penghargaan.
Meski demikian, masih ada kekhawatiran dalam dirinya, khususnya terhadap kekerasan yang mungkin terjadi. Hari-hari awalnya bertugas di Arab Saudi pun terus dibayangi kegelisahan ini.
Akan tetapi, setelah sekian lama, apa yang dia risaukan tak pernah muncul. Justru, keadaan tenteram melingkupi suasana kerjanya dan juga di lingkungan tempat dia tinggal.
Jerry bahkan mendapati kenyataan lain dari sikap umat Islam. Dalam benaknya, orang-orang Islam sangat jauh dari kesan teroris dan kekerasan. Sebaliknya, mereka begitu toleran, cinta Tuhan, dan taat menjalankan ibadah.
Satu hal yang membuat Jerry takjub adalah kumandang azan yang bergema lima kali dalam sehari. Kumandang azan itu membuat umat Muslim segera memenuhi panggilan-Nya untuk melaksanakan shalat fardhu. Apa pun kegiatan dan aktivitas yang sedang dilakukan langsung ditinggalkan. Mereka seolah tak menghiraukan jam sibuk atau saat masih ada pelanggan toko yang hendak berbelanja. Shalat harus tepat waktu.
”Sungguh luar biasa. Baru pertama kali saya menyaksikan keimanan yang seperti ini,” kenang Jerry saat berbicara pada acara diskusi bukunya yang berjudul Deadly Mist: Upaya Amerika Merusak Kesehatan Manusia di sebuah toko buku di Kota Depok, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.
Pernah suatu waktu, dia hendak berbelanja di sebuah toko emas di Jeddah. Namun, sang pemilik tidak ada di tokonya lantaran sedang shalat. Jerry menunggu di luar, tak berani masuk ke dalam.
”Mengapa Anda tidak masuk ke toko saya?” tanya si pemilik toko ketika selesai shalat. ”Saya tidak berani. Nanti, ada yang mengira saya maling dan dapat hukuman yang berat,” jawab Jerry.
Dengan tenang, orang Arab ini menjawab, ”Semua barang tersebut bukan milik saya. Ini semua kepunyaan Allah SWT. Mungkin saja Anda lebih perlu dari saya.” Bertambahlah ketakjuban Jerry.
Sejak itu, timbul rasa ingin tahunya terhadap agama Islam. Dia mulai berani bertanya tentang Islam kepada rekan-rekannya yang Muslim.
Hatinya kian tersentuh manakala suatu hari seorang kenalannya yang berasal dari Yaman membawakan terjemahan kitab suci Alquran berbahasa Inggris. Alquran itu segera dibacanya. ”Ketika selesai membaca satu ayat, saya lupa nama ayatnya, tanpa sadar saya meneteskan air mata,” papar dia.
Ia pun melanjutkan membaca Alquran. Tak lebih dari lima ayat setelahnya, Jerry pun percaya kebenaran yang tertulis dalam Alquran. Meski begitu, dia belum berkeinginan memeluk agama Islam.
Tahun 1984, Jerry meninggalkan Jeddah. Tujuan berikutnya adalah Jakarta dan di sini dia bekerja sebagai instruktur selam. Ini adalah keterampilannya yang lain karena Jerry telah menerima sertifikat PAD, instruktur selam internasional, pada tahun 1978.
Selain menjadi instruktur, dia sekaligus mengembangkan foto-foto bawah air dan juga video. Hasilnya lantas ditayangkan oleh sejumlah stasiun televisi terkemuka.
Berada di negara dengan umat Muslim terbesar di dunia kembali mendekatkannya dengan agama Islam. Maka, tak heran, pada suatu saat, seorang rekannya mengenalkannya dengan seorang guru agama.
Pada hari itu, Jerry sebenarnya sudah ingin memeluk Islam, tapi dia belum berani mengungkapkannya. Sang guru agama memaklumi. Namun, dia meminta Jerry untuk ikut mendengarkan ceramah serta pengajian di kediamannya.
Hari berikutnya, setelah mengikuti kegiatan agama, hatinya berkecamuk. Begitu sampai di rumah, dia langsung masuk ke kamar dan membaca kembali Alquran terjemahan yang dulu diberikan rekannya di Arab Saudi.
Dan, subhanallah, hidayah itu datang. Jerry pun memantapkan diri memeluk agama Islam. Seorang diri, dia bersyahadat dengan menggunakan bahasa Inggris.
Maka, hari berikutnya, dia tak tahan lagi. Kepada sang guru agama, dia mengutarakan keinginannya untuk masuk Islam. ”Langsung ustaz ini berdiri dan berseru alhamdulillah,” ujarnya.
Mengungkap Tragedi 11 September
Dengan sudah menjadi seorang Muslim, dia memutuskan menetap di Indonesia. Selain terus menekuni profesi instruktur selam, Jerry juga sempat menjadi jurnalis. Tepatnya di tahun 90-an, jaringan televisi CNBC Asia mengontraknya sebagai juru kamera. Salah satu momen yang sempat diabadikan adalah peristiwa Mei 1998.
Ada kelebihan tersendiri menjadi seorang jurnalis. Dirinya semakin kritis. Lewat penelusuran di internet, koran, majalah, dan lainnya, banyak informasi yang bisa diketahui untuk selanjutnya ditelaah dan dianalisis sebagai sebuah rangkaian fakta.
Inilah yang dia alami pada malam 11 September 2001. Jerry ingat betul, saat itu, dia sedang berinternet. Mendadak, telepon rumahnya berdering. Saat diangkat, di ujung telepon sana terdengar pekik suara, ”Cepat! Hidupkan televisimu sekarang.”
Suara panik itu adalah milik ibundanya yang berada di AS. Dengan tidak berpikir panjang, dia langsung menyalakan televisi. Jerry pun tercengang.
Pemandangan yang disaksikan membuatnya seolah tak percaya. Ada kejadian luar biasa di New York, suasana menegangkan usai menara kembar World Trade Center (WTC) dihantam pesawat udara.
Seketika, perhatian dunia tertuju kepada Big Apple (julukan New York). Perhatian pun kemudian beralih kepada komunitas Muslim usai hasil investigasi pihak berwenang AS yang menemukan keterlibatan kelompok militan asal Timur Tengah.
Umat Islam segera menjadi objek pemberitaan media Barat yang cenderung menyudutkan. Islamofobia marak, terutama di kalangan warga di AS, Eropa, dan belahan dunia lain. Kondisi ini membuat Jerry terenyuh.
Tak ingin sekadar berpangku tangan, suami dari Ratna Komala ini segera melakukan observasi dan penelusuran kepustakaan. Berita, gambar, atau informasi faktual di internet dan media massa dikumpulkan. Di situlah, dia banyak menemukan kejanggalan terhadap peristiwa 11 September.
Salah satu kecurigaannya, mengapa begitu cepatnya sebuah jaringan televisi AS terkemuka menyiarkan langsung kejadian tersebut. Padahal, dari pengalamannya sebagai jurnalis televisi, paling tidak butuh waktu antara 20-30 menit untuk menyiapkan peralatan siaran langsung di lapangan.
Namun demikian, dari hitungannya, siaran langsung ini sudah bisa mengudara dalam tempo kurang dari 18 menit. ”Ini sulit dimengerti, kecuali mereka sudah mengetahui bakal terjadinya peristiwa itu terlebih dulu.”
Selain itu, banyak kejanggalan lagi ditemukan. Selanjutnya, temuannya tersebut dia rangkum dan dituangkan dalam buku pertamanya yang berjudul The Hard Evidence Expose! The Real Truth 9-11 yang terbit sekitar tahun 2004.
Tak dinyana, buku ini segera menarik perhatian khalayak. Jerry pun banyak menerima undangan sebagai pembicara untuk menjelaskan seputar temuannya itu. Dia sibuk berkeliling dari masjid ke masjid dan majelis taklim di seputar Jabodetabek.
Sejak itu, kegiatannya menulis buku kritis semakin gencar. Berturut-turut, hadirlah buku Dosa-dosa Media Amerika (2006), Demokrasi Barbar ala Amerika (2007), American Shadow Government: Pemerintah Bayangan Amerika (2008), serta yang terbaru Deadly Mist: Upaya Amerika Merusak Kesehatan Dunia (2009).
Buku-bukunya amat kritis terhadap AS. Jerry mengakui, sikap kritisnya itu bisa saja membahayakan dirinya. Namun, dia telah siap dengan segala konsekuensinya. ”Niat saya adalah memberikan informasi serta membantu jutaan manusia di dunia dan juga keinginan serta kebutuhan orang banyak,” tandas Jerry.
Maka, dalam hal ini, lanjutnya, dirinya sama sekali tidak berarti dibandingkan nyawa jutaan manusia lain. ”Saya mencari ridha dan perlindungan hanya dari Allah SWT,” ungkapnya lagi.
Pantang menyerah
Ada hikmah yang dia petik setelah menjadi seorang Muslim, yakni jangan pernah berhenti belajar agama meski hingga akhir hayat. Prinsipnya, setiap Muslim harus memeluk agama Islam dengan sebenar-benarnya, terutama dalam melaksanakan segala ketentuan Allah.

Karena itulah, dia rela memendam keinginannya untuk kembali berkecimpung di dunia bawah air lagi. Jerry berharap dapat membuat film dan foto bawah laut, tapi kali ini dalam perspektif Islam.
”Saat ini, Allah SWT mungkin memberi petunjuk agar saya tetap aktif menulis dan berdialog dengan umat. Insya Allah, nanti di akhirat, saya bisa menemukan laut yang lebih indah,” papar Jerry. sumber : http://www.islambisa.web.id



readmore »»  

Shariffa Carlo, dari Benci Berubah Cinta Islam

Shariffa Carlo, dari Benci Berubah Cinta Islam
Sebaik-baiknya manusia berencana, Allah Yang Maha Besar yang menentukan. Demikian benang merah kisah perkenalan Shariffa Carlo dengan Islam. "Aku tahu seluk beluk tentang Islam. Tapi saat itu, aku memiliki agenda untuk menghancurkan Islam," kenang Sharifa.

Keterlibatan Shariffa dalam kelompok anti Islam boleh dibilang tidak sengaja. Saat itu, anggota kelompok itu melihat bakat dan kemampuannya seperti keahlian berdiplomasi dan menguasai isu-isu Islam dan Timur Tengah. "Orang itu lalu berkata padaku jika bergabung maka ada jaminan aku akan bekerja di kedutaan besar AS di Mesir. Dia ingin aku pergi kesana untuk berbicara dengan muslimah dan mendorong gerakan terkait hak-hak perempan," kata dia.

Saat itu, Shariffa melihat tawaran itu sungguh menarik. Belum lagi, hal yang diperjuangkan adalah perempuan. Sharifa paham betul, muslimah adalah individu tertindas. Tentu, niatan dirinya untuk membantu perjuangan para muslimah menjadi besar. "Aku ingin membawa mereka pada kebebasan," ucapnya.

Sebagai bekal pendekatan terhadap muslimah, Shariffa mulai mendalami Alquran dan sejarah Islam. Ia juga belajar bagaimana memutarbalikan fakta dalam Alquran untuk tujuan tertentu. Shariffa pun menyadari apa yang dilakukannya itu kian mendekatkan dirinya dengan Islam. "Aku mulai tertarik, tapi aku coba untuk menahan ketertarikan itu dengan mempelajari ajaran Kristen secara mendalam," kata Shariffa.

Niatan itu dilakukannya. Ia minta seorang teolog lulusan Harvard untuk menjadi pembimbingnya. Namun, pembimbingnya itu justru sosok yang meragukan sejumlah kepercayaan dalam kristen seperti masalah Trinitas dan kenabian Yesus.

"Diawal aku merasa ditangan yang benar, tapi ternyata profesor ini seorang yang percaya bahwa Yesus adalah seorang Nabi," kenang dia.

Shariffa pun kembali mencari penolakan atas kebenaran ini dengan mengkaji kembali isi alkitab berbahasa Yunani dan Ibrani. Ternyata, ia menemukan hal yang mengejutkan. Apa yang ia baca serupa dengan apa yang dipelajarinya.Kepercayaannya terhadap Kristen runtuh seketika. "Aku saat itu tidak bisa menerimannya, aku tetap memaksakan bahwa Kristen yang benar. Aku tidak siap menerima kebenaran Islam," katanya.

Seiring berjalannya waktu, pergulatan dalam diri Shariffa berakhir. Ia mulai untuk menerima secara perlahan kebenaran tentang Islam. Sebuah agama yang dahulu ia pergunakan  untuk menyebarkan pesan kebencian. Ia pun mulai banyak berdiskusi dengan muslim. 

Suatu hari, Shariffa bertemu dengan sekelompok muslim yang tengah berkunjung. Entah mengapa, Shariffa begitu berkeinginan kuat untuk bertemu dengan mereka. Ia pun terlibat diskusi tentang Islam dan Kristen. "Aku tidak lagi bisa membohongi kebenaran nyara. Aku tahu itu kebenaran sejati. Aku lalu mengambil keputusan, Alhamdulillah, aku ingin menjadi seorang muslim," kenangnya haru.

"Saat aku bersyahadat dihadapan Allah SWT, seketika aku merasakan betapa beban dalam diriku hilang seketika. Aku begitu bahagia, dan merasa bersyukur dapat menjalani sisa hidup untuk menjadi muslim," pungkasnya




readmore »»  

Mualaf Sumaya, Kagum dengan Rasionalitas Alquran

Mualaf Sumaya, Ragu Soal Trinitas (1)


Tanpa terasa, tujuh tahun sudah Sumaya Fannoun memeluk Islam. Sebelum itu, ia adalah penganut Kristen. 
Seiring perjalanan waktu, ia mulai mempertanyakan beragam keganjilan dalam keyakinan Kristen. Saat itulah, ia memutuskan untuk mencari kebenaran hakiki, meski harus menghadapi pergulatan batin yang keras dalam dirinya.

"Aku sebenarnya tahu bahwa kristen adalah agama yang tidak sempurna, tapi saat itu aku percaya bahwa Kristen adalah yang terbaik untukku," kata dia.

Sumaya sadar ada beberapa bagian dalam Alkitab yang meragukan. Seperti pada satu bagian dikatakan Yesus harus berkorban untuk dosa-dosa manusia. "Aku juga meragukan masalah trinitas. Aku tidak paham mengapa Allah itu ada tiga. Salah satu darinya menciptakan bumi, satu  lagi menanggung dosa kita, lalu satu Allah yang lain roh," ungkapnya.

"Dari pemahaman itu, aku justru membayangkan seorang pria kulit putih dengan jenggot dan bermata biru menggenakan jubah. Ia berjalan di atas awan. Untuk roh kudus, aku membayangkan ia seorang mahluk berkabut yang tidak memiliki tujuan hidup," tambah dia.

Ia pun melihat terlalu banyak mitologi Yunani yang masuk dalam ajaran Kristen. "Salah satunya soal manusia setengah dewa. Aku pun bermasalah dengan materi Alkitab Perjanjian Lama dan Baru. Aku selalu berpikir dari Sepuluh Perintah Allah secara jelas bahwa ada pelanggaran yang dilakukan saat kita menyembah Yesus," paparnya.

Keganjilan lain, kata Sumaya, ada semacam jaminan bahwa manusia bakal masuk surga tanpa perlu melakukan apa pun, sebab Allah akan menanggung setiap kesalahan yang dilakukan manusia. "Jadi apa insentif yang kita peroleh ketika menjadi sosok yang baik di saat hal buruk memiliki banyak kesenangan," kata dia.

Di sini, kata Sumaya, tidak ada konsekuensi dari apa yang diperbuat. Jadi, seolah anak manja yang menuntut hak untuk melakukan hal sesukanya. 

Menuntut Tuhan untuk menerima perilaku keji. "Jadi, tidak mengherankan apabila penjara kita penuh dengan penjahat, dan orang tua sulit untuk mengontrol anak-anaknya," kata dia

Sumaya mengatakan konsep itu bertolak belakang dengan Islam. Dalam Islam, hidup itu adalah pilihan. Seorang Muslim akan masuk surga apabila ia menjadi seorang yang baik. Demikian pula sebaliknya.

"Dalam Alquran, Nabi Muhammad SAW mengatakan pada kita bahwa seorang Muslim akan masuk surga atas rahmat Allah atau perbuatan baik," ucapnya.

Pada fase ini, Sumaya penuh dengan rasa bimbang. Ia berusaha keras untuk tidak memikirkan hal itu. Tetapi, ia tidak mau terjebak dalam keyakinan yang tidak dapat dipahami.

"Aku benar-benar frustasi. Aku sebenarnya bosan dengan kondisi di mana aku tidak tahu kepada siapa harus menyembah. Aku belum mampu menerima Muhammad," kata dia.

Namun, hal itu tidak berlangsung lama setelah sumaya diberikan Alquran terjemahan. Ia selalu mencari kesalahan dan mempertanyakan Alquran. Nyatanya, semakin dibaca, Sumaya kian yakin bahwa Alquran ini merupakan sumber kebenaran. Sumaya mendapatkan pula jawab tentang kepada siapa ia harus menyembah.

"Aku mulai menangis. Aku menangis untuk ketidaktahuan masa laluku. Aku kagum pada pengetahuan ilmiah dalam Alquran. Aku sangat terkesan dengan deskripsi proses embriologis yang dijelaskan dalam Alquran, dan banyak lagi. Aku pun menerima Islam sebagai agamaku," pungkasnya.



readmore »»  

George Wenur, Tersentuh Azan di Tepi Israel

George Wenur, Tersentuh Azan di Tepi Israel (I)


Hawa dingin Perth, Australia mengantarkan Republika bertemu seorang general manajer hotel terkemuka di kota tersebut, Rabu (23/5). Dia adalah George Wenur yang kini menjadi nahkoda King’s Hotel Perth. Sosok enerjik ini bukan pemain baru di dunia perhotelan. Bersama manajemen hotel Four Season, dia sudah melanglang buana mengelola bisnis yang satu ini.


Selidik punya selidik, penggemar motor gede Harley Davidson ini ternyata seorang mualaf. Sebenarnya dia terlahir sebagai seorang katolik. Namun demikian George menghabiskan masa kecilnya di lingkungan Islam. Di tumbuh di sekitar Masjid Al Falah, Surabaya. Sejak masa kecil itulah sebenarnya dia sudah mulai kontak dengan Islam.



Setamat dari SMA Santa Maria Surabaya, dia kemudian meneruskan kuliah perhotelan di Swiss. Setelah tiga tahun kuliah, George yang lahir 4 Oktober 1960 ini kemudian terjun ke dunia kerja. Setelah beberapa saat mencoba kerja di hotel, pada tahun 1986 dia ingin mencoba dunia baru dengan bekerja di kapal pesiar asal Italia. Dari sinilah kisah hidupnya berubah.



Saat mulai bekerja di kapal, dia berkawan dengan seorang warga Iran dan warga Irak. Bersama kedua orang ini dia sering berbincang soal Islam. Sebelum di kapal, dia juga pernah punya teman kerja di Venesia bernama Samir. Warga Irak ini menjadi teman satu kamar George saat tinggal di kota tersebut.



Setelah sembilan bulan kerja di kapal, kejadian tidak lazim mendorongnya membuat perubahan besar dalam hidup. Saat itu, kapal tempatnya bekerja melintas di sekitar perairan Ashdod, yang diduduki Israel.



Kapal ini memang melayani rute wisata menyusur Laut Mediterania. Kota Ashdod menjadi salah satu titik persinggahannya. Jadi, dalam setiap rute perjalanan mengelilingi Mediterania, George singgah di kota tersebut.



Di bulan kesembilan kerja di kapal itulah dia mendengar suara azan dari speaker kapal saat posisinya berada dekat perairan Ashdod. Dia berpikir, suara azan itu diputar oleh petugas radio komunikasi kapal. Namun George tidak lantas begitu percaya pada sangkaannya itu. Dia cek ke petugas radio komunikasi.



“Tapi ternyata mereka mengatakan tidak membunyikan siaran azan,” ujar George. Saat itu kira-kira tiba waktunya untuk shalat shubuh. Karena tidak ada yang menyiarkannya, suara azan ini pun mengundang rasa penasaran yang sangat besar. George berpikir keras untuk menemukan asal muasal panggilan azan tersebut.



Sambil berpikir, pekerjaan di kapal pesiar terus saja dijalaninya seperti biasa. Pada kesempatan berikutnya, kejadian yang sama terulang. Dia mendengar suara azan dari pengeras suara di dalam kapal saat menjelang shubuh di dekat Ashdod. Dia kembali mengecek ke petugas radio komunikasi, dan ternyata mereka tidak menyiarkan azan.


Sebelum mendengar azan, George sudah sering berdialog dengan rekan-rekannya yang Muslim. Salah satu tema perbincangan yang membuatnya berpikir banyak soal Islam adalah tentang kitab suci. Di situ intinya terungkap bahwa Alquran adalah kitab suci yang menyempurnakan kitab suci-kitab suci yang diturunkan sebelumnya oleh Allah SWT.



Dua kejadian inilah yang kemudian mendorongnya kuat untuk berpindah agama dari Katolik menjadi Islam. “Saya langsung ke Masjidil Aqsha untuk menemui imamnya,” tutur dia. Upayanya itu pun berhasil. Di masjid inilah dia kemudian mengucap syahadat untuk menyatakan masuk Islam. 



Saat itu, George berusia 26 tahun dan belum berkeluarga. Selepas mengucap syahadat, George mengontak kedua orang tuanya. “Saat itu ibu saya menyatakan bisa menerima dengan lapang dada dan bapak saya diam,” tutur George. Begitu masuk Islam, George merasakan suasana batin yang lebih nyaman dibanding sebelumnya.



Pada tahun 1989 dia kemudian pulang ke Surabaya dan berhenti kerja di kapal pesiar. Di kota ini dia memperdalam Islam selama setahun. George banyak menghabiskan waktu di Masjid Al Falah untuk lebih mengenal Islam. Kontak dengan teman-teman kecil dan teman sekolahnya pun terus dijalin. Saat itu dia sudah menikah dengan perempuan asal Surabaya.



Pria yang setelah masuk Islam juga punya nama Muhammad Yusuf ini juga tetap bergaul dengan teman-teman Katoliknya. Kebanyakan teman, kata dia, tidak mempersoalkan keputusan pindah agama. Ada satu teman, yang kemudian menilai George telah menghianati Yesus. “Tapi saya katakan tidak, dalam Islam saya tetap percaya Isa,” kata ayah dua orang putra ini.


Dari saudara ibunya, dia juga mengaku sempat mendapatkan penentangan atas keputusannya memeluk Islam. Tapi, penentangan itu tak digubrisnya. Lama-lama situasi pun berubah normal. Ayahnya yang semula menanggapi dengan diam, perlahan-lahan bisa menerima keputusan George untuk meninggalkan Katolik menjadi seorang Muslim.



Selain kenyamanan, satu hal penting yang juga menjadi nilai tambah buat dia setelah masuk Islam adalah kedisiplinan. Sejak masuk Islam, dirinya merasa lebih disiplin dalam segala hal. Karena memang Islam banyak sekali mengajarkan tentang kedisiplinan.



Setelah setahun mendalami Islam di Surabaya, dia kemudian bergabung dengan manajemen Hotel Four Season dan ditempatkan di Bali. Setalah itu dia dipindahkan ke Jakarta. Selanjutnya di tahun 1998 dia pindah ke Amerika, Kanada, dan Turki. Di berbagai negara yang ditinggali, George mengaku tidak ada masalah dengan Islam.

Kemudian sejak tahun 2007, dia memilih pindah ke Perth, Australia, dan keluar dari Four Season. “Ini karena anak saya kuliah di sini sehingga kami memilih pindah,” ujar dia. Di Perth dia bergabung dengan King’s Hotel sebagai general manager. Di kota ini, dia pun tetap nyaman untuk menjalankan aktivitas keislamannya dengan baik.




readmore »»